Dalam beberapa tahun terakhir, produk skincare berbahan
herbal mendapat tempat besar di pasaran global. Dari centella asiatica
hingga aloe vera, hingga green tea dan licorice, banyak brand (baik indie
maupun global) menonjolkan kata “herbal”, “natural”, atau “plant-based” di
kemasan mereka.
Tapi apakah alasan penggunaan herbal di skincare itu hanya
tren dan estetik semata, atau memang ada dasar ilmiah dan manfaat nyata
di baliknya? Artikel ini membahas secara lengkap — dengan referensi dari badan
kesehatan, publikasi ilmiah, serta prinsip industri kosmetik resmi — mengapa
herbal menjadi bahan favorit di skincare modern.
1. Herbal Mengandung Senyawa Bioaktif yang Berpotensi
Bermanfaat bagi Kulit
Alasan paling fundamental kenapa bahan herbal dipilih adalah
karena fitokimia dan senyawa bioaktif yang mereka miliki. Banyak tanaman
memiliki:
- Antioksidan
? membantu melawan radikal bebas
- Anti-inflamasi
? meredakan kemerahan
- Antimikroba
ringan ? mendukung kesehatan kulit
Menurut tinjauan ilmiah di Journal of Ethnopharmacology,
banyak herbal tradisional mengandung flavonoid, polifenol, dan tanin yang nyata
memberikan aktivitas biologis kulit.
Contoh senyawa aktif:
- Centella
asiatica ? triterpenoid (menunjang regenerasi kulit)
- Green
tea ? epigallocatechin-3-gallate (antioksidan kuat)
- Chamomile
? bisabolol (anti-inflamasi)
Karena senyawa ini memiliki fungsi yang terukur secara
biokimia, mereka tidak hanya “alami” tapi juga berdasarkan mekanisme kerja
yang dipelajari sains modern.
2. Preferensi Konsumen ke Arah Natural & Clean Beauty
Permintaan konsumen kini berubah. Banyak orang tidak puas
dengan klaim “bahan kimia aman” saja — mereka ingin:
·
bahan yang terlihat sederhana & berasal
dari tumbuhan
·
transparansi label (less is more)
·
produk yang feels lebih ramah tubuh
Laporan tren Sustainable Cosmetic Ingredient Outlook
menyebut bahwa konsumen global kini makin memilih plant-based skincare
karena persepsi “lebih lembut & rendah risiko iritasi”.
Ini membuat brand besar berinvestasi dalam riset herbal dan
menempatkan bahan herbal sebagai pilar messaging mereka, bukan sekadar label
marketing.
3. Dukungannya Terlihat dari Penelitian Ilmiah & Uji
Klinik
Herbal bukan hanya dipakai karena tradisi lama —
banyak yang sudah mengalami uji ilmiah modern.
Contoh nyata:
- Centella
asiatica ? sejumlah uji klinik menunjukkan potensi membantu regenerasi
jaringan dan mengurangi kemerahan.
- Green
tea extract ? banyak studi yang melaporkan aktivitas antioksidan dan
kemampuan bantu pertahanan kulit terhadap UV-induced oxidative stress.
- Aloe
vera ? uji klinik mengindikasikan kolagen support dan hidrasi kulit.
Menurut Cosmetics & Toiletries Scientific Review,
bukti ilmiah terhadap bahan herbal ini meningkatkan rasa percaya produsen dan
konsumen dalam penggunaan jangka panjang.
4. Herbal Cenderung Lebih Lembut Daripada Senyawa
Sintetis Poten
Tidak semua kulit sama. Banyak orang dengan kulit
sensitif tidak cocok dengan:
- retinoid
dosis tinggi
- AHA/BHA
agresif
- parfum
sintetis / pengawet tertentu
Herbal dapat hadir sebagai opsi yang lebih lembut,
memberikan aktivitas yang diinginkan tanpa overstimulasi.
Hal ini mendorong tren skincare minimalis yang fokus pada pemulihan barrier
kulit, bukan eksfoliasi agresif.
Beberapa studi dermatologi menunjukkan bahwa beberapa
herbal:
·
menenangkan iritasi ringan
·
mendukung barrier lipid
·
mempercepat pemulihan kulit pasca-irritasi
ringan
Namun ini bukan berarti herbal tidak bisa menyebabkan
iritasi — respons individu tetap berbeda.
5. Konsumen Ingin Kosmetik dengan Aktivitas Ganda
(Multi-Functional)
Produk herbal sering punya lebih dari satu manfaat —
bukan hanya satu fungsi saja. Misalnya:
Green tea extract
- antioksidan
- anti-inflamasi
kecil
- soothing
Licorice (Glycyrrhiza glabra)
- brighten
lewat glabridin
- anti-inflamasi
Centella asiatica
- bantu
sintesis kolagen
- bantu
pertahanan barrier
Karena satu herbal bisa punya beberapa aktivitas biologis,
formulasi produk menjadi lebih efisien, yang sangat relevan bagi
konsumen Gen Z yang menginginkan produk all-in-one simpel namun efektif.
6. Regulasi Industri Mulai Mengakui Herbal Sebagai Bahan
Aktif
Badan regulator di banyak negara seperti European
Medicines Agency (EMA) atau FDA di AS memiliki monografi dan pedoman
tentang penggunaan bahan herbal dalam kosmetik. Ini menunjukkan bahwa herbal
diakui bukan hanya sebagai fillers tetapi juga bahan yang layak
dipelajari efeknya secara ilmiah.
Beberapa lembaga mengkategorikan bahan herbal sebagai:
- bahan
fungsional
- bahan
dengan klaim dukungan barrier
- bahan
dengan aktivitas anti-inflamasi
Hal ini memperkuat argumen bahwa penggunaan herbal di
skincare bukan sekedar tren, melainkan berbasis standar keamanan &
ilmiah.
7. Tantangan & Risiko yang Sering Diabaikan
Walau begitu, perlu dipahami bahwa:
·
Herbal tidak selalu aman untuk semua orang
Efek alergi, sensitivitas, atau interaksi dengan obat tetap mungkin terjadi.
·
“Natural” ? “Non-irritant”
Beberapa minyak esensial kuat justru lebih cepat menyebabkan iritasi
daripada senyawa sintetis yang sudah teruji konsisten.
·
Standar bahan herbal bisa berbeda antar produsen
Tidak semua ekstrak herbal punya kualitas atau konsentrasi yang sama, jadi sertifikasi
& traceability sangat penting.
Kesimpulan
Herbal dipakai luas di skincare modern karena beberapa
alasan kuat dan terukur:
·
mengandung senyawa bioaktif yang dipelajari
sains
·
relevan dengan permintaan konsumen terhadap clean
& plant-based beauty
·
ada dukungan dari penelitian dan uji klinik
·
cenderung lebih ramah untuk kulit sensitif
(jika diformulasikan dengan benar)
·
sering punya manfaat multi-fungsi dalam satu
bahan
Namun, herbal bukan jaminan ramah untuk semua kulit
dan tidak selamanya berarti lebih baik tanpa pertimbangan formulasi yang
tepat.
Dengan pemahaman yang benar tentang herbal, kamu bisa
memilih skincare yang tidak hanya terlihat “clean” di feed, tetapi didukung
sains, aman untuk kulit, dan bertanggung jawab secara ilmiah.
Disclaimer Kesehatan
Artikel ini disusun untuk edukasi kesehatan dan gaya
hidup dan bukan pengganti nasehat medis. Respons terhadap bahan herbal
dapat bervariasi. Jika memiliki kondisi kulit tertentu, allergies, atau sedang
memakai produk dermatologi lain, konsultasikan dengan profesional medis atau
dermatologist sebelum mencoba produk baru.
Referensi
- Clean
Beauty & Ingredient Safety — VOI Indonesia (tren clean beauty
& evolusi skincare).
- Sustainable
Ingredients Selection — SpecialChem guide (standar bahan aktif,
termasuk herbal dalam kosmetik).
- The
Environmental Impact of Using Natural Ingredients in Cosmetic Products
— NatureHerb World (ekosistem & resource rantai pasok herbal).
- Mountian
Rose Herbs — bahan herbal yang bersertifikat & traceability
(botanical raw materials).
- Journal
of Ethnopharmacology — fitokimia herbal & aktivitas bioaktif untuk
kulit.