Aloe vera adalah salah satu tanaman herbal paling populer
di dunia. Mulai dari minuman kesehatan, skincare, haircare, hingga
suplemen, lidah buaya seolah selalu “ada di mana-mana”.
Namun, seiring meningkatnya tren clean beauty dan natural
wellness, muncul pertanyaan kritis — terutama di kalangan Gen Z dan
milenial:
Apakah aloe vera masih benar-benar relevan secara ilmiah,
atau sudah terlalu dibesar-besarkan (overrated) oleh marketing?
Artikel ini akan membedah aloe vera berdasarkan bukti
ilmiah, bukan hype, dengan sudut pandang seimbang: manfaat nyata,
keterbatasan, dan risikonya.
1. Apa yang Membuat Aloe Vera Menarik Secara Ilmiah?
Aloe vera mengandung lebih dari 75 senyawa aktif, di
antaranya:
- Polisakarida
(acemannan)
- Vitamin
(A, C, E, B12)
- Mineral
- Asam
amino
- Enzim
bioaktif
WHO dan NIH mencatat bahwa beberapa senyawa ini memiliki aktivitas
biologis nyata, terutama dalam konteks kulit dan penyembuhan luka.
Jadi, aloe vera bukan sekadar tanaman biasa, tapi
memang memiliki dasar ilmiah tertentu.
2. Manfaat Aloe Vera yang Masih Dianggap Relevan
a. Perawatan Kulit & Luka Ringan
Bukti ilmiah paling konsisten tentang aloe vera adalah pada:
- luka
bakar ringan
- iritasi
kulit
- sunburn
- kulit
kering
NIH dan beberapa jurnal dermatologi menyebutkan bahwa aloe
vera dapat:
- membantu
hidrasi kulit
- mendukung
proses penyembuhan luka ringan
- memberi
efek menenangkan (soothing effect)
Namun, manfaat ini paling kuat untuk penggunaan topikal,
bukan konsumsi oral.
b. Skincare: Melembapkan, Bukan “Ajaib”
Dalam dunia skincare modern, aloe vera masih relevan
sebagai:
- humectant
(menjaga kelembapan)
- bahan
pendukung skin barrier
Ahli dermatologi menegaskan:
Aloe vera bekerja sebagai supporting ingredient,
bukan bahan utama anti-aging atau pencerah instan.
Artinya, klaim seperti “bikin glass skin tanpa skincare
lain” tidak didukung bukti ilmiah kuat.
c. Efek Anti-Inflamasi Ringan
Beberapa studi menunjukkan aloe vera memiliki efek
anti-inflamasi ringan, yang berguna untuk:
- kulit
sensitif
- iritasi
ringan
- jerawat
ringan (sebagai pendamping, bukan pengobatan utama)
WHO menyebut efek ini bersifat ringan–moderat, tidak
setara dengan obat medis.
3. Di Mana Aloe Vera Mulai Terlihat “Overrated”?
a. Klaim Detoks & Minuman Kesehatan
Salah satu klaim paling kontroversial adalah:
“Minum aloe vera bisa detox tubuh.”
WHO, FDA, dan ahli gastroenterologi sepakat:
- Tubuh
manusia sudah punya sistem detoks alami (hati & ginjal)
- Tidak
ada bukti kuat bahwa aloe vera oral “membersihkan racun”
Beberapa produk minuman aloe justru mengandung laksatif
alami, yang bila dikonsumsi rutin bisa berdampak negatif.
b. Risiko Konsumsi Oral Jangka Panjang
NIH dan FDA memperingatkan bahwa:
- Aloe
vera oral (terutama whole-leaf extract) dapat menyebabkan:
- gangguan
pencernaan
- diare
- ketidakseimbangan
elektrolit
- potensi
masalah hati pada penggunaan jangka panjang
Karena itu, FDA tidak merekomendasikan aloe vera sebagai
obat pencahar sejak regulasi diperketat.
c. “Natural = Aman” adalah Mitos
Banyak orang mengira aloe vera aman untuk semua orang.
Faktanya:
- Bisa
memicu alergi pada sebagian individu
- Tidak
dianjurkan untuk ibu hamil
- Harus
hati-hati pada penderita gangguan ginjal & pencernaan
Inilah alasan aloe vera sering dianggap overrated,
karena risikonya jarang dibahas di marketing.
4. Pandangan WHO & Ahli Kesehatan
WHO memposisikan aloe vera sebagai:
·
tanaman dengan potensi manfaat terbatas
·
berguna dalam konteks tertentu
·
bukan solusi universal untuk semua masalah
kesehatan
Pendekatan WHO adalah:
Gunakan berbasis bukti, bukan tren.
Aloe vera tetap diakui, tetapi tidak diposisikan sebagai
“super herb”.
5. Jadi, Aloe Vera Masih Relevan atau Tidak?
Jawaban jujurnya: tergantung konteks.
Masih relevan untuk:
- skincare
pendukung
- perawatan
kulit ringan
- soothing
& hidrasi
Mulai overrated jika:
- diklaim
sebagai detox
- dijadikan
minuman harian tanpa kontrol
- dianggap
aman tanpa batas
Aloe vera bukan usang, tapi juga bukan solusi
ajaib.
Kesimpulan
Aloe vera masih relevan, tetapi perannya sering
dibesar-besarkan.
Ringkasannya:
- Ada
bukti ilmiah untuk penggunaan topikal
- Bukti
konsumsi oral masih terbatas & berisiko
- Banyak
klaim marketing tidak sejalan dengan sains
- Penggunaan
bijak jauh lebih penting daripada mengikuti tren
Pendekatan terbaik:
Gunakan aloe vera sebagai pendukung kesehatan, bukan
sebagai “penyelamat segala masalah”.
Disclaimer Kesehatan
Artikel ini bersifat edukasi kesehatan, bukan
pengganti saran medis profesional. Respons terhadap aloe vera dapat berbeda
pada setiap individu. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan sebelum konsumsi
oral atau penggunaan jangka panjang.
Referensi
- World
Health Organization (WHO) – WHO Monographs on Selected Medicinal
Plants (Aloe vera).
- National
Institutes of Health (NIH) – Aloe vera: uses, effectiveness, and
safety.
- U.S.
Food and Drug Administration (FDA) – Regulatory actions on aloe vera
laxative products.
- Journal
of Ethnopharmacology – Scientific reviews on aloe vera pharmacological
activity.
- International
Journal of Dermatology – Aloe vera in dermatological applications.
- European
Medicines Agency (EMA) – Safety assessment of Aloe species
preparations.