Dalam tren gaya hidup sehat, herbal sering diposisikan
sebagai daily habit: diminum tiap pagi, dikonsumsi rutin, bahkan
dianggap aman untuk penggunaan seumur hidup. Banyak orang berpikir:
“Kalau herbal kan alami, pasti aman diminum terus.”
Namun, pertanyaan penting yang sering luput dibahas adalah:
apakah herbal benar-benar aman untuk konsumsi jangka panjang?
WHO dan para ahli kesehatan justru menempatkan isu ini
sebagai tantangan besar dalam keamanan pengobatan tradisional modern.
Artikel ini membahas jawabannya secara jujur, ilmiah, dan tidak bias.
1. Herbal Tetap Zat Aktif, Bukan Sekadar Minuman Biasa
Herbal mengandung senyawa bioaktif yang bekerja di
tubuh, seperti:
- alkaloid
- flavonoid
- glikosida
- terpenoid
- saponin
WHO menegaskan bahwa:
Herbal memiliki aktivitas farmakologis, sehingga
secara prinsip harus diperlakukan seperti zat terapeutik, bukan sekadar
makanan atau minuman biasa.
Inilah alasan utama mengapa konsumsi jangka panjang perlu
kehati-hatian, meskipun herbal berasal dari tumbuhan.
2. Aman atau Tidaknya Herbal Jangka Panjang Tergantung
Banyak Faktor
Tidak ada jawaban “ya” atau “tidak” yang absolut. Menurut
WHO, keamanan herbal jangka panjang bergantung pada:
- jenis
herbal
- dosis
- durasi
konsumsi
- kondisi
kesehatan individu
- interaksi
dengan obat lain
- cara
pengolahan & kualitas produk
Herbal tertentu relatif aman dalam jangka panjang jika
digunakan dengan dosis tepat, sementara herbal lain tidak dianjurkan
untuk konsumsi rutin tanpa jeda.
3. Risiko yang Bisa Muncul dari Konsumsi Herbal Jangka
Panjang
a. Beban pada Hati dan Ginjal
Hati dan ginjal bertugas memetabolisme zat aktif herbal.
WHO, NIH, dan EMA mencatat bahwa:
- konsumsi
herbal tertentu secara kronis dapat:
- meningkatkan
enzim hati
- memicu
gangguan fungsi hati
- memperberat
kerja ginjal
Risiko ini meningkat jika:
- dikonsumsi
bertahun-tahun
- dosis
tidak jelas
- dikombinasikan
dengan obat medis
b. Efek Akumulasi Senyawa Aktif
Beberapa senyawa herbal tidak langsung dikeluarkan tubuh,
melainkan menumpuk perlahan.
Efeknya bisa:
- muncul
setelah berbulan-bulan
- tidak
terasa di awal
- sering
disalahartikan sebagai “penyakit biasa”
Inilah alasan efek samping herbal jangka panjang sering tidak
terdeteksi sejak dini.
c. Gangguan Keseimbangan Tubuh
Herbal yang memengaruhi:
- hormon
- tekanan
darah
- gula
darah
- sistem
saraf
jika dikonsumsi terus-menerus tanpa evaluasi dapat
menyebabkan ketidakseimbangan fisiologis, meskipun awalnya terasa
“membantu”.
4. Interaksi Herbal & Obat dalam Jangka Panjang
WHO dan FDA sama-sama menegaskan bahwa:
Konsumsi herbal jangka panjang meningkatkan risiko
interaksi dengan obat medis, terutama jika digunakan bersamaan.
Interaksi ini bisa:
- menurunkan
efektivitas obat
- memperkuat
efek obat secara berbahaya
- meningkatkan
risiko efek samping
Masalahnya, banyak orang tidak melaporkan konsumsi herbal
rutin ke dokter, sehingga interaksi ini sering luput dari pemantauan.
5. Siapa yang Sebaiknya Tidak Konsumsi Herbal Jangka
Panjang?
Berdasarkan panduan WHO, NHS, dan BPOM, kelompok berikut harus
ekstra hati-hati:
- ibu
hamil & menyusui
- anak-anak
- lansia
- penderita
penyakit hati & ginjal
- pasien
dengan penyakit kronis
- orang
yang mengonsumsi obat rutin
Pada kelompok ini, konsumsi jangka panjang hanya
dianjurkan dengan pengawasan tenaga kesehatan.
6. Pandangan WHO: Bukan Melarang, Tapi Mengatur
WHO tidak menolak penggunaan herbal. Justru WHO mendorong:
- riset
keamanan jangka panjang
- standarisasi
dosis
- regulasi
produk
- edukasi
konsumen
Namun WHO menegaskan:
Penggunaan herbal jangka panjang tidak boleh berdasarkan
asumsi tradisi semata, tetapi harus berbasis bukti dan evaluasi risiko.
Pendekatan ini dikenal sebagai evidence-based traditional
medicine.
7. Cara Lebih Aman Mengonsumsi Herbal Jangka Panjang
Rekomendasi umum dari WHO dan lembaga kesehatan:
- jangan
konsumsi herbal tanpa jeda terlalu lama
- gunakan
dosis minimal efektif
- hindari
mencampur banyak herbal sekaligus
- evaluasi
kondisi tubuh secara berkala
- konsultasikan
jika digunakan lebih dari beberapa minggu
- hentikan
jika muncul gejala tidak biasa
Pendekatan ini bertujuan mengurangi risiko kumulatif,
bukan melarang herbal.
Kesimpulan
Herbal tidak otomatis aman untuk konsumsi jangka panjang,
meskipun berasal dari alam.
Kesimpulan penting:
- herbal
mengandung zat aktif
- konsumsi
rutin bisa menimbulkan efek akumulasi
- risiko
meningkat tanpa dosis & durasi jelas
- interaksi
obat sering diabaikan
- keamanan
sangat bergantung pada individu
Pendekatan terbaik adalah:
bijak, terukur, dan berbasis ilmu — bukan sekadar tren.
Disclaimer Kesehatan
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan
dan tidak menggantikan konsultasi medis. Efek herbal dapat berbeda pada setiap
individu. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan sebelum penggunaan jangka
panjang, terutama jika memiliki kondisi medis atau sedang mengonsumsi obat.
Referensi
- World
Health Organization (WHO) – WHO Guidelines on Safety Monitoring of
Herbal Medicines
- WHO
Traditional Medicine Strategy 2014–2025
- National
Institutes of Health (NIH) – Herbal supplements: safety &
long-term use
- U.S.
Food and Drug Administration (FDA) – Dietary supplements & safety
warnings
- European
Medicines Agency (EMA) – Risk assessment of herbal medicinal products
- NHS
(UK) – Herbal medicines: risks and long-term considerations
- Journal
of Ethnopharmacology & BMC Medicine – studies on chronic herbal
exposure