“Cuma herbal, paling cuma pusing dikit.”
“Wajar kok mual, tandanya lagi detoks.”
“Kalau ngantuk berarti herbalnya bekerja.”
Kalimat-kalimat seperti ini sering terdengar ketika membahas
konsumsi herbal. Karena berasal dari bahan alami, banyak efek samping herbal
dianggap normal dan tidak berbahaya.
Padahal menurut World Health Organization (WHO) dan
berbagai jurnal medis, herbal tetap mengandung senyawa aktif biologis
yang bisa menimbulkan efek samping — ringan hingga serius — tergantung dosis,
durasi, kondisi tubuh, dan interaksi dengan obat lain.
Artikel ini membahas efek samping herbal yang sering
disepelekan, kenapa itu tidak selalu normal, dan kapan kamu perlu waspada.
Kenapa Efek Samping Herbal Sering Diremehkan?
Ada beberapa alasan utama:
- Label
“alami” memberi kesan otomatis aman
- Herbal
sering diposisikan sebagai minuman harian, bukan “obat”
- Efeknya
sering muncul perlahan, bukan langsung
- Kurangnya
edukasi soal dosis dan jeda konsumsi
- Budaya
turun-temurun yang jarang dikaji ulang secara ilmiah
Padahal, alami ? bebas risiko. WHO secara tegas
menyatakan bahwa obat dan suplemen herbal tetap dapat menimbulkan reaksi
merugikan (adverse effects).
Efek Samping Herbal yang Sering Dianggap “Normal”
1. Mual dan Perut Tidak Nyaman
Banyak orang menganggap mual setelah minum herbal sebagai:
“Adaptasi tubuh” atau “tanda detoks”
Padahal, mual bisa disebabkan oleh:
- iritasi
saluran cerna
- dosis
terlalu tinggi
- herbal
dengan efek stimulan atau pahit kuat
- interaksi
dengan makanan atau obat
Jika mual terjadi berulang atau disertai muntah, itu
bukan reaksi normal.
2. Pusing atau Kepala Ringan
Pusing sering dianggap sepele, terutama pada herbal yang
diklaim:
- meningkatkan
energi
- melancarkan
peredaran darah
- menenangkan
saraf
Namun secara medis, pusing bisa menandakan:
- penurunan
tekanan darah
- efek
pada sistem saraf pusat
- reaksi
sensitivitas individu
Jika pusing muncul setiap konsumsi, tubuhmu kemungkinan tidak
cocok atau overdosis ringan.
3. Ngantuk Berlebihan atau “Lemas”
Efek relaksasi memang diharapkan dari beberapa herbal. Tapi ngantuk
berlebihan, sulit fokus, atau tubuh terasa berat bukan selalu hal baik.
Ini bisa terjadi karena:
- efek
sedatif terlalu kuat
- pengaruh
pada neurotransmitter
- konsumsi
bersamaan dengan kafein, alkohol, atau obat tertentu
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengganggu aktivitas
dan keselamatan.
4. Diare atau BAB Berubah
Sering dianggap sebagai:
“Lagi buang racun”
Padahal diare bisa menandakan:
- iritasi
usus
- gangguan
keseimbangan mikrobiota
- efek
laksatif berlebihan
- intoleransi
terhadap senyawa tertentu
Jika berlangsung lebih dari beberapa hari, risiko
dehidrasi dan gangguan elektrolit meningkat.
5. Jantung Berdebar
Efek ini sering muncul pada herbal yang:
- bersifat
stimulan
- meningkatkan
metabolisme
- dikonsumsi
sebagai pre-workout atau booster energi
Jantung berdebar bukan reaksi yang boleh dinormalisasi,
terutama bagi:
- penderita
gangguan jantung
- orang
dengan kecemasan
- yang
mengombinasikan dengan kafein
6. Reaksi Kulit: Gatal, Ruam, atau Kemerahan
Reaksi ini sering dianggap “alergi ringan” dan diabaikan.
Padahal:
- bisa
menjadi tanda hipersensitivitas
- berpotensi
memburuk dengan paparan berulang
- dapat
berkembang menjadi reaksi sistemik
Herbal juga mengandung alergen alami yang
berbeda-beda pada setiap individu.
7. Perubahan Mood atau Emosi
Beberapa herbal memengaruhi:
- serotonin
- GABA
- dopamin
Perubahan mood seperti:
- mudah
cemas
- gelisah
- sulit
tidur
- mood
swing
sering tidak dikaitkan dengan herbal, padahal bisa merupakan
efek samping neuropsikologis.
Kenapa Efek Ini Bisa Terjadi?
Secara ilmiah, efek samping herbal terjadi karena:
- Senyawa
aktifnya memang bekerja pada sistem tubuh
- Setiap
orang punya metabolisme berbeda
- Tidak
ada standar dosis global yang seragam
- Banyak
produk herbal tidak melalui uji klinis seketat obat
- Interaksi
dengan obat medis sering tidak disadari
NIH (National Institutes of Health) menekankan bahwa herbal dapat
memengaruhi enzim hati dan sistem saraf, sama seperti obat farmasi.
Efek Samping vs Tanda Bahaya: Bedanya Apa?
Efek ringan:
- muncul
sesekali
- cepat
hilang
- tidak
makin parah
Tanda bahaya:
- muncul
terus-menerus
- intensitas
meningkat
- mengganggu
aktivitas
- disertai
nyeri hebat, sesak, atau pingsan
Jika sudah masuk kategori kedua, penggunaan herbal
sebaiknya dihentikan dan dikonsultasikan.
Siapa yang Harus Lebih Waspada?
Kelompok berikut lebih berisiko mengalami efek samping
serius:
- penderita
penyakit hati atau ginjal
- ibu
hamil dan menyusui
- pengguna
obat medis rutin
- penderita
gangguan jantung
- individu
dengan riwayat alergi
WHO menyarankan kelompok ini tidak mengonsumsi herbal
tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Cara Aman Mengonsumsi Herbal
Agar manfaat didapat tanpa risiko:
- Mulai
dari dosis rendah
- Jangan
konsumsi terus-menerus tanpa jeda
- Hindari
mengombinasikan banyak herbal sekaligus
- Perhatikan
reaksi tubuh
- Jangan
anggap efek tidak nyaman sebagai hal “wajar”
- Laporkan
penggunaan herbal ke dokter jika sedang minum obat
Kesimpulan
Efek samping herbal tidak selalu berarti herbalnya
bekerja. Banyak reaksi yang dianggap “normal” sebenarnya adalah sinyal
tubuh bahwa ada ketidaksesuaian.
Herbal bisa bermanfaat — tapi hanya jika digunakan:
·
dengan dosis tepat
·
durasi wajar
·
kesadaran akan risiko
Kesadaran ini penting agar gaya hidup sehat berbasis herbal tidak
berubah menjadi masalah kesehatan tersembunyi.
Referensi
- World
Health Organization (WHO) – Guidelines on Safety Monitoring of
Herbal Medicines
- National
Institutes of Health (NIH) – Herbal supplements & adverse effects
- Journal
of Clinical Pharmacology – Herbal-related adverse reactions
- European
Medicines Agency (EMA) – Herbal medicinal products safety reports
Catatan Penting Kesehatan
Artikel ini bertujuan sebagai edukasi kesehatan,
bukan pengganti diagnosis atau terapi medis. Jika mengalami efek samping
berulang atau berat setelah konsumsi herbal, segera hentikan penggunaan dan
konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional.