“Overthinking” atau pola berpikir berulang yang tidak produktif sering kali terjadi saat stres, cemas, atau tekanan harian meningkat — terutama di kalangan Gen Z yang hidup dalam arus informasi cepat dan tuntutan sosial tinggi.
Untuk meredakan gejala seperti cemas, gugup, atau pikiran yang tidak tenang, banyak orang mencoba herbal alami seperti teh chamomile, ashwagandha, lavender, atau lemon balm. Tapi pertanyaannya:
- Apakah herbal itu benar-benar efektif menenangkan pikiran dan mengurangi overthinking?
- Atau efek yang dirasakan hanya karena sugesti / plasebo?
Artikel ini akan menjawabnya berdasarkan bukti ilmiah terbaru dan sumber terpercaya, tanpa berlebihan.
Apa Itu Overthinking dan Kecemasan?
Before we dive into herbs — overthinking sering berkaitan dengan reaksi stres & kecemasan ringan. Kecemasan adalah respons biologis terhadap rasa takut atau ancaman (nyata atau perkiraan) yang melibatkan sistem saraf dan hormon seperti kortisol.
Beberapa tingkat kecemasan adalah normal, tapi bila berkepanjangan dan mengganggu fungsi sehari-hari, banyak orang mencari cara alami untuk menenangkannya.
Bukti Ilmiah Tentang Herbal & Kecemasan
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa beberapa herbal memang memiliki potensi efek yang membantu relaksasi pikiran dan mengurangi kecemasan ringan, tetapi efeknya biasanya moderat dan tidak selalu konsisten.
Berikut ringkasan bukti ilmiahnya
1. Chamomile — Bukti Terkuat di Antara Herbal Relaksasi
Chamomile adalah herbal yang banyak digunakan untuk relaksasi dan menenangkan pikiran. Ulasan sistematis menunjukkan bahwa chamomile mampu mengurangi kecemasan dibandingkan plasebo pada banyak trial klinis.
Sebuah review sistematik dari 10 klinis trial menyimpulkan bahwa 9 dari 10 studi menunjukkan chamomile efektif dalam mengurangi gejala kecemasan, meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami.
Selain itu, chamomile juga mengandung flavonoid seperti apigenin yang diyakini dapat memengaruhi neurotransmitter di otak dan membantu menciptakan efek rileks.
Kesimpulan ilmiah sementara:
Chamomile tampaknya punya efek menenangkan nyata (lebih dari sekedar placebo), terutama untuk rasa cemas ringan.
2. Ashwagandha — Adaptogen Terpopuler untuk Stres
Ashwagandha adalah herbal adaptogen yang populer dalam pengobatan Ayurveda untuk membantu tubuh beradaptasi terhadap stres.
Beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi ashwagandha selama ber-minggu mampu:
- menurunkan level hormon stres (cortisol)
- mengurangi gejala kecemasan ringan hingga sedang
- membantu relaksasi dan kualitas tidur dalam beberapa kasus
Namun, bukti terbaik berasal dari studi dosis terstandarisasi selama minimal 8 minggu, dan efeknya tidak selalu dramatis seperti obat farmasi.
Catatan ilmiah:
Efek ashwagandha lebih seperti adaptogen yang membantu respon stress daripada “mengobati” overthinking secara langsung.
3. Lemon Balm — Evidence Moderate
Lemon balm (Melissa officinalis) telah diteliti dalam beberapa uji klinis dan meta-analisis untuk efeknya pada kecemasan dan suasana hati.
Beberapa studi menunjukkan penurunan gejala kecemasan, stres, dan perbaikan suasana hati dengan konsumsi lemon balm, tetapi hasilnya dipengaruhi oleh kualitas dan dosis ekstrak.
Temuan ilmiah:
Lemon balm punya bukti moderate untuk efek antistres ringan, terutama jika dikonsumsi secara konsisten.
4. Lavender — Relaksasi Saraf & Ketenangan
Lavender sudah lama digunakan dalam aromaterapi dan sebagai ramuan teh untuk menenangkan pikiran.
Beberapa studi tradisional dan ulasan menyatakan lavender mempunyai efek sedatif ringan pada sistem saraf pusat, yang dapat membantu kecemasan atau rasa tegang.
Walaupun data klinisnya tidak sekuat chamomile atau ashwagandha, banyak konsumen melaporkan rasa rileks setelah konsumsi atau inhalasi aroma lavender.
5. Passionflower, Valerian & Lainnya
Beberapa herbal lain seperti passionflower dan valerian juga digunakan dalam konteks menenangkan pikiran atau mengurangi kecemasan.
-
Passionflower menunjukkan ada bukti penggunaan tradisional dan beberapa studi kecil yang mendukung efek menenangkan.
-
Valerian kadang dipakai untuk relaksasi atau tidur, tetapi bukti efek anxiolytic-nya kurang kuat dan lebih terkait dengan efek sedatif ringan.
Untuk beberapa herbal ini, bukti ilmiahnya lebih lemah atau kurang konsisten dibanding chamomile atau ashwagandha.
Efek Herbal vs Plasebo
Beberapa uji klinis menunjukkan bahwa herbal seperti chamomile atau lemon balm mempunyai hasil yang lebih baik dibanding plasebo dalam manajemen kecemasan ringan.
Namun, banyak penelitian juga mengingatkan bahwa:
- bukti masih bersifat awal atau kurang kuat
- efeknya moderat, tidak drastis seperti obat farmasi
- respon tiap orang berbeda
- kombinasi dengan gaya hidup sehat biasanya lebih efektif
Artinya: herbal bukan “obat ajaib”, tapi bisa membantu relaksasi dan meredakan kecemasan ringan lebih dari sekadar efek plasebo pada beberapa kasus.
Cara Herbal Bekerja di Tubuh
Herbal yang disebutkan umumnya bekerja melalui beberapa mekanisme:
Modulasi neurotransmitter
Beberapa senyawa herbal berinteraksi dengan sistem neurotransmitter seperti GABA, yang membantu menenangkan respon saraf.
Antioksidan & anti-inflamasi
Antioksidan dalam chamomile, lemon balm, atau lavender dapat membantu menurunkan stres oksidatif yang berhubungan dengan kecemasan.
Efek adaptogenik
Herbal seperti ashwagandha membantu tubuh merespon stres secara lebih seimbang.
Namun mekanisme pasti belum sepenuhnya dipahami, dan kerja herbal seringkali bersifat multi-komponen dan subtile dibandingkan obat farmasi.
Keamanan & Peringatan
Herbal bekerja lambat, tidak instan seperti obat.
- Konsultasikan jika kamu sedang memakai obat resep, terutama antikoagulan atau obat mental health lainnya.
- Beberapa herbal bisa menyebabkan efek samping ringan seperti rasa kantuk, pusing, atau gangguan pencernaan.
- Hindari penggunaan berlebihan tanpa arahan profesional.
Sebagai contoh, chamomile dapat meningkatkan risiko perdarahan jika dikombinasikan dengan obat pengencer darah.
Herbal + Gaya Hidup = Kombinasi Terbaik
Herbal bisa menjadi bagian dari strategi untuk membantu meredakan overthinking ringan, terutama jika dikombinasikan dengan:
- pola tidur teratur
- teknik pernapasan / meditasi
- olahraga ringan
- manajemen stres sehari-hari
Ini karena overthinking sering berkaitan dengan stres jangka panjang, bukan sekadar “pikir berlebihan” sesaat.
Kesimpulan (Evidence-Based)
Beberapa herbal memiliki bukti ilmiah yang mendukung potensi efek menenangkan dan membantu meredakan kecemasan ringan:
-
Chamomile: bukti klinis paling banyak untuk anxiolytic ringan
-
Ashwagandha: adaptogen menurunkan stres hormon
-
Lemon balm: bukti efek antistres moderat
-
Lavender: relaksasi saraf
-
Passionflower & Valerian: penggunaan tradisional, bukti terbatas
Namun efeknya biasanya moderat dan bukan pengganti perawatan medis bila kecemasan sudah berat. Herbal lebih cocok sebagai pendukung gaya hidup sehat & manajemen stres ringan.
Disclaimer Kesehatan
Artikel ini disusun hanya untuk tujuan edukasi kesehatan umum dan tidak menggantikan nasihat medis profesional, diagnosis, atau perawatan dokter. Herbal dapat punya manfaat, tetapi respon tiap orang berbeda. Konsultasikan dulu dengan dokter atau tenaga medis kompeten sebelum menggunakan herbal terutama bila kamu memiliki kondisi medis atau sedang minum obat.
Referensi
Medicinal herbs for the treatment of anxiety: systematic review — W. Zhang et al., 2022 (herbal potensial namun perlu interpretasi hati-hati). PubMed
-
Herbal treatment for anxiety: Mayo Clinic review (Valerian & Chamomile safety/efficacy). Mayo Clinic
-
Lemon balm clinical meta-analysis — Melissa officinalis L., 2021 (anti-anxiety effects). Wikipedia
-
Herbs for anxiety overview — Healthline (Chamomile, Passionflower, Lavender, etc.). Healthline
-
Chamomile systematic review — Clinical trials sanbut apigenin & anxiolytic effect. e-cnr.org
-
Ashwagandha reduces stress/anxiety in trials and decreases cortisol. Office of Dietary Supplements