Di era healthy lifestyle, herbal sering diposisikan
sebagai alternatif ālebih amanā dibanding obat medis. Banyak orang
mengonsumsinya bersamaan dengan obat resep ā tanpa memberi tahu dokter
dan tanpa menyadari satu fakta penting:
Herbal bisa berinteraksi dengan obat medis, sama
seriusnya seperti obat dengan obat.
WHO, FDA, NHS, dan berbagai lembaga kesehatan global
menegaskan bahwa interaksi herbalāobat adalah isu kesehatan nyata, bukan
mitos atau sekadar kemungkinan kecil.
1. Kenapa Herbal Bisa Berinteraksi dengan Obat?
Herbal mengandung senyawa bioaktif yang dapat
memengaruhi cara tubuh memproses obat, terutama melalui:
- Enzim
hati (terutama sistem CYP450)
- Penyerapan
di saluran cerna
- Pengikatan
protein dalam darah
- Efek
farmakologis yang saling menguatkan atau meniadakan
WHO menekankan bahwa mekanisme kerja herbal sering kali
sama kompleksnya dengan obat farmasi, sehingga potensi interaksi tidak
boleh diremehkan.
2. Bentuk Interaksi HerbalāObat yang Paling Umum
a. Menurunkan Efektivitas Obat
Beberapa herbal dapat mempercepat metabolisme obat sehingga
obat menjadi kurang efektif.
Contoh yang sering dibahas dalam literatur medis:
- Herbal
tertentu dapat menurunkan efektivitas:
- obat
jantung
- obat
kontrasepsi
- obat
antidepresan
WHO dan FDA mencatat bahwa kondisi ini berbahaya karena
pasien merasa āsudah minum obatā padahal efek terapinya menurun.
b. Memperkuat Efek Obat Secara Berlebihan
Sebaliknya, ada herbal yang justru memperkuat efek obat,
sehingga meningkatkan risiko efek samping.
Risikonya meliputi:
- tekanan
darah turun drastis
- gula
darah terlalu rendah
- risiko
perdarahan meningkat
Inilah alasan mengapa kombinasi herbal + obat harus
dievaluasi secara individual.
c. Membebani Hati dan Ginjal
Hati dan ginjal adalah organ utama yang memproses obat dan
herbal.
WHO menyatakan:
Konsumsi herbal bersamaan dengan obat tertentu dapat
meningkatkan beban metabolik hati dan ginjal, terutama jika digunakan jangka
panjang.
Pada individu dengan:
- penyakit
hati
- gangguan
ginjal
- usia
lanjut
risiko ini menjadi jauh lebih tinggi.
3. Interaksi yang Paling Sering Diabaikan oleh Masyarakat
Menurut laporan NHS dan WHO, kesalahan paling umum adalah:
- Tidak
melaporkan konsumsi herbal ke dokter
- Menganggap
herbal āsekadar minumanā
- Menggabungkan
beberapa herbal sekaligus
- Mengonsumsi
herbal rutin tanpa jeda
- Mengikuti
tren tanpa memahami konteks medis
Padahal, secara medis:
Tidak melaporkan herbal sama berbahayanya dengan tidak
melaporkan obat lain.
4. Kelompok yang Paling Rentan Terhadap Interaksi
WHO dan lembaga kesehatan internasional menggarisbawahi
bahwa risiko interaksi jauh lebih tinggi pada:
- Ibu
hamil dan menyusui
- Lansia
- Pasien
dengan penyakit kronis
- Pasien
yang mengonsumsi:
- obat
jantung
- obat
diabetes
- obat
tekanan darah
- obat
gangguan mental
Pada kelompok ini, interaksi ringan pun bisa berdampak
serius.
5. Kenapa Kasus Interaksi Herbal Sering Tidak Terdeteksi?
Ada beberapa alasan utama:
- Gejala
tidak spesifik
(lemas, pusing, mual sering dianggap āmasuk anginā) - Tidak
ada pencatatan resmi
Banyak herbal tidak tercatat dalam sistem farmakovigilans - Kurangnya
edukasi konsumen
Herbal dipasarkan sebagai produk āaman alamiā
WHO menyebut kondisi ini sebagai tantangan global dalam
sistem phytovigilance (pemantauan keamanan herbal).
6. Sikap WHO & Ahli Kesehatan soal Herbal + Obat
WHO tidak melarang penggunaan herbal, tetapi secara
konsisten menyatakan bahwa:
Ā·
Herbal harus diperlakukan seperti zat aktif
medis
Ā·
Konsumsi bersamaan dengan obat perlu pengawasan
Ā·
Edukasi pasien dan tenaga kesehatan wajib
ditingkatkan
Ā·
Sistem pelaporan efek samping herbal harus
diperkuat
Pendekatan WHO adalah risk-aware, bukan anti-herbal.
7. Cara Lebih Aman Mengonsumsi Herbal
Berdasarkan rekomendasi WHO, NHS, dan FDA:
- Selalu
informasikan ke dokter/apoteker jika mengonsumsi herbal
- Jangan
konsumsi herbal bersamaan dengan obat tanpa jeda jelas
- Hindari
mencampur banyak herbal sekaligus
- Perhatikan
durasi dan dosis
- Hentikan
jika muncul efek tidak biasa
Pendekatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk melindungi
kesehatan jangka panjang.
Kesimpulan
Interaksi herbal dengan obat medis adalah masalah nyata,
terverifikasi, dan sering diabaikan.
Intinya:
- Herbal
mengandung senyawa aktif
- Bisa
memperlemah atau memperkuat obat
- Bisa
membebani organ vital
- Risiko
meningkat tanpa edukasi dan komunikasi
Pendekatan terbaik:
Herbal digunakan dengan kesadaran, transparansi, dan
tanggung jawab medis.
Disclaimer Kesehatan
Konten ini disediakan untuk tujuan edukasi, bukan
sebagai pengganti nasihat medis profesional. Selalu konsultasikan dengan tenaga
kesehatan sebelum mengonsumsi herbal, terutama jika sedang menjalani pengobatan
medis.
Referensi
- World
Health Organization (WHO) ā Guidelines on Safety Monitoring of
Herbal Medicines
- WHO
Traditional Medicine Strategy 2014ā2025
- NHS
(UK) ā Herbal medicines & drug interaction guidance
- U.S.
FDA ā Dietary supplements & drug interaction warnings
- European
Medicines Agency (EMA) ā Herbal medicinal products safety
- BPOM
RI ā Edukasi keamanan obat tradisional dan herbal
- BMC
Medicine & Journal of Ethnopharmacology ā studi ilmiah interaksi
herbalāobat