Kenapa WHO & Ahli Kesehatan Tetap Hati-Hati soal Herbal?

Dipublikasikan pada 05 Jan 2026

Kenapa WHO & Ahli Kesehatan Tetap Hati-Hati soal Herbal?

Herbal dan pengobatan tradisional sudah digunakan manusia sejak ribuan tahun lalu. Di banyak negara, pendekatan ini menjadi bagian dari culture heritage bahkan praktik kesehatan. Namun, ketika hukumnya modern, otoritas kesehatan seperti World Health Organization (WHO) dan para ahli medis tetap bersikap hati-hati terhadap penggunaan herbal — terutama ketika dikaitkan dengan klaim kesehatan dan penggunaannya di luar konteks tradisional.

Artinya, bukan berarti herbal tidak berguna, tetapi perlu ada bukti ilmiah yang kuat, regulasi yang jelas, dan pemahaman risiko sebelum diadopsi secara luas sebagai pilihan kesehatan modern.

1. WHO Mengakui Tradisi tapi Menekankan Bukti Ilmiah

WHO telah mencatat bahwa herbal adalah bentuk medicina tradisional yang banyak dipakai di seluruh dunia — sekitar 80% populasi dunia masih mengandalkannya dalam berbagai budaya kesehatan. kumparan

Namun, WHO juga menekankan bahwa penggunaan herbal secara luas dan global sering terjadi tanpa kontrol dan bukti ilmiah yang memadai. Ini menjadi alasan utama mengapa lembaga kesehatan berhati-hati — karena:

· Banyak herbal digunakan di luar konteks tradisionalnya

· Dosis, cara ekstraksi, dan indikasi tidak jelas

· Bukti efektivitas sering terbatas atau berdasarkan tradisi, bukan uji klinis modern

· Konsumen sering menganggap natural = aman tanpa risiko
WHO IRIS

WHO bahkan menggarisbawahi pentingnya regulasi dan edukasi tentang herbal, serta perlunya tenaga medis tahu tentang konsumsi herbal pasiennya agar bisa mencegah masalah kesehatan yang mungkin muncul. WHO IRIS

2. Bukti Ilmiah untuk Herbal Masih Terbatas

Banyak herbal yang telah dipakai selama ratusan atau ribuan tahun secara tradisional. Namun, saat diuji dengan standar ilmiah modern, banyak klaimnya belum cukup terbukti dalam uji klinis yang kuat.

Menurut NHS (National Health Service) Inggris, banyak produk herbal masih bergantung pada penggunaan tradisional, bukan bukti dari penelitian ilmu klinis. Ini berarti:

· Efektivitas sering tidak pasti

· Mekanisme kerja tidak jelas

· Tidak ada data dosis optimal yang terstandarisasi

· Potensi efek samping kurang diteliti
nhs.uk

Karena itu, WHO dan lembaga kesehatan lain berhati-hati dalam mendorong penggunaan herbal secara umum dalam sistem medis resmi.

3. Potensi Risiko Langsung & Tidak Langsung

Risiko Interaksi dengan Obat Medis

Herbal dapat berinteraksi dengan obat resep dan membuat obat menjadi kurang efektif atau meningkatkan risiko efek samping. Contohnya, St. Johns Wort dapat mengurangi efektivitas pil kontrasepsi atau warfarin jika dikonsumsi bersamaan. SpringerLink

Risiko Toksisitas atau Alergi

Meskipun “alami”, senyawa dalam tumbuhan bisa menyebabkan reaksi serius, tergantung individu, dosis, dan interaksi dengan obat lain atau kondisi kesehatan. PMC

Adulterasi & Produk Berkualitas Rendah

Produk herbal yang dibuat tanpa pengawasan mutu dapat mengandung bahan yang tidak terdaftar, kontaminan, atau bahkan bahan sintetis berbahaya. Hal ini sudah diingatkan oleh otoritas kesehatan seperti HSA dan BPOM di berbagai negara. HSA+1

4. Regulasi & Standar Keselamatan Masih Beragam

Salah satu alasan para profesional kesehatan berhati-hati adalah kurangnya regulasi yang konsisten secara global.

Menurut WHO:

· Sebagian negara menerapkan standar seperti obat farmasi

· Sebagian negara punya regulasi berbeda

· Beberapa negara bahkan tidak punya aturan sama sekali
Springer

Ini berarti bahwa dua produk herbal yang sama bisa diproduksi di dua negara dengan standar mutu yang sangat berbeda — yang tentu saja berdampak pada keamanan dan konsistensi bahan aktifnya. Springer

5. Profesional Kesehatan Tidak Selalu Teredukasi Herbal

WHO menyoroti bahwa banyak tenaga medis — termasuk dokter, perawat, dan apoteker — tidak mendapatkan pelatihan mendalam tentang herbal dan penggunaannya. Ini membuat interaksi antara pasien yang menggunakan herbal dan sistem medis menjadi kurang aman. WHO IRIS

Situasi ini memicu kebutuhan:

· Edukasi profesional kesehatan tentang herbal

· Komunikasi antara pasien dan dokter terkait penggunaan herbal

· Sistem phytovigilance (monitoring efek samping herbal) seperti yang dilakukan untuk obat modern
PubMed

6. WHO Terus Mendorong Riset & Regulasi

Meski hati-hati, WHO tidak menolak pengobatan herbal secara keseluruhan. Lembaga ini sedang berupaya membangun strategi global yang lebih kuat untuk traditional, complementary, and integrative medicine (TCIM), termasuk herbal, dengan fokus pada:

· bukti ilmiah yang kuat

· regulasi & standar kualitas

· keamanan pasien

· integrasi yang tepat ke dalam layanan kesehatan
Pom Indonesia

Langkah ini menunjukkan bahwa WHO memahami potensi herbal, tetapi menekankan safety first — yakni bukti dan perlindungan pasien.

Kesimpulan

Herbal sering dianggap “aman karena alami”, tetapi WHO dan ahli kesehatan tetap berhati-hati karena beberapa alasan utama:

· Bukti ilmiah masih terbatas dan belum konsisten

· Risiko interaksi obat herbal

· Potensi efek samping & alergi

· Regulasi yang tidak seragam di seluruh dunia

· Edukasi tenaga kesehatan yang kurang

· Kualitas produk yang variatif
Semua ini membuat pendekatan terhadap herbal harus berbasis bukti, terukur, dan hati-hati, bukan otomatis dianggap aman semata karena berasal dari tumbuhan.

Disclaimer Kesehatan

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan umum dan tidak menggantikan nasihat medis profesional. Respons terhadap produk herbal dapat berbeda di setiap individu. Jika Anda memiliki kondisi medis tertentu, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan herbal secara rutin.

Referensi

  1. Kebijakan WHO tentang keamanan tradisional herbal, termasuk masalah interaksi dan edukasi tenaga kesehatan. WHO IRIS
  2. WHO-IRCH sebagai mekanisme global untuk memperkuat regulasi obat herbal di banyak negara. Pom Indonesia
  3. NHS – herbal tidak otomatis aman, risiko interaksi dan kurang bukti untuk banyak klaim. nhs.uk
  4. European safety review – variasi kualitas, potensi toxic & keamanan produk herbal. PMC
  5. BMC Medicine – kebutuhan informasi aman pakai herbal, interaksi obat herbal. SpringerLink
  6. Singapore HSA – kualitas & adulterasi produk herbal. HSA
  7. Surabaya BPOM – edukasi BPOM tentang keamanan produk herbal. Surabaya POM
  8. Phytovigilance study menunjukkan pentingnya monitoring efek samping herbal. PubMed

← Kembali