Herbal dan pengobatan tradisional sudah digunakan manusia
sejak ribuan tahun lalu. Di banyak negara, pendekatan ini menjadi bagian dari culture
heritage bahkan praktik kesehatan. Namun, ketika hukumnya modern, otoritas
kesehatan seperti World Health Organization (WHO) dan para ahli medis
tetap bersikap hati-hati terhadap penggunaan herbal — terutama ketika
dikaitkan dengan klaim kesehatan dan penggunaannya di luar konteks tradisional.
Artinya, bukan berarti herbal tidak berguna, tetapi
perlu ada bukti ilmiah yang kuat, regulasi yang jelas, dan pemahaman risiko
sebelum diadopsi secara luas sebagai pilihan kesehatan modern.
1. WHO Mengakui Tradisi tapi Menekankan Bukti Ilmiah
WHO telah mencatat bahwa herbal adalah bentuk medicina
tradisional yang banyak dipakai di seluruh dunia — sekitar 80% populasi
dunia masih mengandalkannya dalam berbagai budaya kesehatan. kumparan
Namun, WHO juga menekankan bahwa penggunaan herbal secara luas
dan global sering terjadi tanpa kontrol dan bukti ilmiah yang memadai.
Ini menjadi alasan utama mengapa lembaga kesehatan berhati-hati — karena:
·
Banyak herbal digunakan di luar konteks
tradisionalnya
·
Dosis, cara ekstraksi, dan indikasi tidak jelas
·
Bukti efektivitas sering terbatas atau
berdasarkan tradisi, bukan uji klinis modern
·
Konsumen sering menganggap natural = aman
tanpa risiko
WHO IRIS
WHO bahkan menggarisbawahi pentingnya regulasi dan
edukasi tentang herbal, serta perlunya tenaga medis tahu tentang konsumsi
herbal pasiennya agar bisa mencegah masalah kesehatan yang mungkin muncul. WHO IRIS
2. Bukti Ilmiah untuk Herbal Masih Terbatas
Banyak herbal yang telah dipakai selama ratusan atau ribuan
tahun secara tradisional. Namun, saat diuji dengan standar ilmiah modern,
banyak klaimnya belum cukup terbukti dalam uji klinis yang kuat.
Menurut NHS (National Health Service) Inggris, banyak
produk herbal masih bergantung pada penggunaan tradisional, bukan bukti
dari penelitian ilmu klinis. Ini berarti:
·
Efektivitas sering tidak pasti
·
Mekanisme kerja tidak jelas
·
Tidak ada data dosis optimal yang
terstandarisasi
·
Potensi efek samping kurang diteliti
nhs.uk
Karena itu, WHO dan lembaga kesehatan lain berhati-hati
dalam mendorong penggunaan herbal secara umum dalam sistem medis resmi.
3. Potensi Risiko Langsung & Tidak Langsung
Risiko Interaksi dengan Obat Medis
Herbal dapat berinteraksi dengan obat resep dan membuat obat
menjadi kurang efektif atau meningkatkan risiko efek samping. Contohnya, St.
Johns Wort dapat mengurangi efektivitas pil kontrasepsi atau warfarin jika
dikonsumsi bersamaan. SpringerLink
Risiko Toksisitas atau Alergi
Meskipun “alami”, senyawa dalam tumbuhan bisa menyebabkan
reaksi serius, tergantung individu, dosis, dan interaksi dengan obat lain atau
kondisi kesehatan. PMC
Adulterasi & Produk Berkualitas Rendah
Produk herbal yang dibuat tanpa pengawasan mutu dapat
mengandung bahan yang tidak terdaftar, kontaminan, atau bahkan bahan sintetis
berbahaya. Hal ini sudah diingatkan oleh otoritas kesehatan seperti HSA dan
BPOM di berbagai negara. HSA+1
4. Regulasi & Standar Keselamatan Masih Beragam
Salah satu alasan para profesional kesehatan berhati-hati
adalah kurangnya regulasi yang konsisten secara global.
Menurut WHO:
·
Sebagian negara menerapkan standar seperti obat
farmasi
·
Sebagian negara punya regulasi berbeda
·
Beberapa negara bahkan tidak punya aturan
sama sekali
Springer
Ini berarti bahwa dua produk herbal yang sama bisa
diproduksi di dua negara dengan standar mutu yang sangat berbeda — yang tentu
saja berdampak pada keamanan dan konsistensi bahan aktifnya. Springer
5. Profesional Kesehatan Tidak Selalu Teredukasi Herbal
WHO menyoroti bahwa banyak tenaga medis — termasuk dokter,
perawat, dan apoteker — tidak mendapatkan pelatihan mendalam tentang herbal
dan penggunaannya. Ini membuat interaksi antara pasien yang menggunakan herbal
dan sistem medis menjadi kurang aman. WHO IRIS
Situasi ini memicu kebutuhan:
·
Edukasi profesional kesehatan tentang herbal
·
Komunikasi antara pasien dan dokter terkait
penggunaan herbal
·
Sistem phytovigilance (monitoring efek
samping herbal) seperti yang dilakukan untuk obat modern
PubMed
6. WHO Terus Mendorong Riset & Regulasi
Meski hati-hati, WHO tidak menolak pengobatan herbal secara
keseluruhan. Lembaga ini sedang berupaya membangun strategi global yang
lebih kuat untuk traditional, complementary, and integrative medicine
(TCIM), termasuk herbal, dengan fokus pada:
·
bukti ilmiah yang kuat
·
regulasi & standar kualitas
·
keamanan pasien
·
integrasi yang tepat ke dalam layanan kesehatan
Pom Indonesia
Langkah ini menunjukkan bahwa WHO memahami potensi herbal,
tetapi menekankan safety first — yakni bukti dan perlindungan pasien.
Kesimpulan
Herbal sering dianggap “aman karena alami”, tetapi WHO
dan ahli kesehatan tetap berhati-hati karena beberapa alasan utama:
·
Bukti ilmiah masih terbatas dan belum konsisten
·
Risiko interaksi obat herbal
·
Potensi efek samping & alergi
·
Regulasi yang tidak seragam di seluruh dunia
·
Edukasi tenaga kesehatan yang kurang
·
Kualitas produk yang variatif
Semua ini membuat pendekatan terhadap herbal harus berbasis bukti, terukur,
dan hati-hati, bukan otomatis dianggap aman semata karena berasal dari
tumbuhan.
Disclaimer Kesehatan
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan umum
dan tidak menggantikan nasihat medis profesional. Respons terhadap
produk herbal dapat berbeda di setiap individu. Jika Anda memiliki kondisi
medis tertentu, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan
herbal secara rutin.
Referensi
- Kebijakan
WHO tentang keamanan tradisional herbal, termasuk masalah interaksi dan
edukasi tenaga kesehatan. WHO IRIS
- WHO-IRCH
sebagai mekanisme global untuk memperkuat regulasi obat herbal di banyak
negara. Pom Indonesia
- NHS –
herbal tidak otomatis aman, risiko interaksi dan kurang bukti untuk banyak
klaim. nhs.uk
- European
safety review – variasi kualitas, potensi toxic & keamanan produk
herbal. PMC
- BMC
Medicine – kebutuhan informasi aman pakai herbal, interaksi obat herbal. SpringerLink
- Singapore
HSA – kualitas & adulterasi produk herbal. HSA
- Surabaya
BPOM – edukasi BPOM tentang keamanan produk herbal. Surabaya POM
- Phytovigilance
study menunjukkan pentingnya monitoring efek samping herbal. PubMed