Saat Herbal Menjadi Bagian Gaya Hidup
Minuman herbal sudah lama dikenal di Indonesia melalui jamu dan ramuan tradisional. Dahulu, minuman ini identik dengan rasa pahit, penjual keliling, dan konsumsi oleh generasi tua. Namun kini, citra tersebut perlahan berubah. Minuman herbal tampil dengan kemasan modern, rasa yang lebih ramah lidah, serta tampilan visual yang menarik—bahkan menjadi bagian dari gaya hidup urban.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan hidup sehat, minuman herbal kekinian hadir sebagai alternatif minuman fungsional. Banyak orang mulai mengurangi konsumsi minuman tinggi gula dan kafein, lalu beralih ke minuman alami yang dianggap lebih “aman” dan menenangkan tubuh. Perubahan ini didorong oleh tren global wellness lifestyle, clean label, serta ketertarikan generasi muda terhadap produk alami dan berkelanjutan.
Apa yang Dimaksud Minuman Herbal Kekinian?
Minuman herbal kekinian adalah minuman berbasis tanaman herbal atau rempah yang diproses dan disajikan dengan pendekatan modern. Bentuknya bisa berupa:
minuman siap minum (ready to drink),
minuman sachet instan,
minuman kafe (herbal latte, iced herbal tea),
atau minuman visual-estetik untuk kebutuhan konten digital.
Meski tampil modern, bahan dasarnya tetap berasal dari tanaman yang secara tradisional digunakan sebagai jamu atau obat bahan alam.
Jenis Minuman Herbal Kekinian yang Paling Populer
1. Wedang Jahe Modern
Jahe (Zingiber officinale) merupakan bahan herbal yang paling mudah diterima lintas generasi. Secara tradisional, jahe digunakan untuk menghangatkan tubuh dan membantu pencernaan.
Dalam versi modern, wedang jahe hadir sebagai:
iced ginger tea,
ginger latte,
jahe sparkling,
hingga jahe instan rendah gula.
Penelitian menunjukkan bahwa jahe mengandung senyawa gingerol yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Beberapa studi juga menunjukkan manfaat jahe dalam mengurangi mual dan nyeri ringan. Namun, manfaat ini bersifat pendukung, bukan pengobatan utama.
2. Kunyit dan Kunyit Asam: Dari Jamu ke Golden Latte
Kunyit (Curcuma longa) mengandung kurkumin, senyawa polifenol yang banyak diteliti karena sifat antiinflamasi dan antioksidannya. Di Indonesia, kunyit asam sudah lama dikonsumsi sebagai jamu.
Saat ini, kunyit banyak diolah menjadi:
golden milk,
turmeric latte,
minuman botolan berbasis kunyit.
Perlu dicatat bahwa kurkumin memiliki bioavailabilitas rendah, sehingga penyerapannya dalam tubuh tidak optimal bila tidak dikombinasikan dengan lemak atau piperin (lada hitam). Oleh karena itu, klaim kesehatan kunyit sebaiknya disampaikan secara proporsional.
3. Teh Rosella (Hibiscus sabdariffa)
Rosella populer karena warna merahnya yang alami dan rasa asam segar. Secara ilmiah, rosella mengandung antosianin dan antioksidan yang telah diteliti terkait:
tekanan darah,
profil lipid,
dan kesehatan kardiovaskular ringan.
Rosella sering disajikan sebagai:
teh panas,
infused water,
minuman dingin dengan madu atau lemon.
4. Butterfly Pea Tea (Bunga Telang)
Bunga telang (Clitoria ternatea) menjadi viral karena warna birunya yang unik dan bisa berubah warna saat ditambahkan asam seperti lemon. Kandungan flavonoid dan antosianinnya menjadikan bunga telang populer sebagai minuman antioksidan.
Meski memiliki potensi biologis, sebagian besar studi masih bersifat praklinis (laboratorium dan hewan). Artinya, klaim manfaat untuk manusia tetap perlu disampaikan secara hati-hati.
5. Jamu yang Direbranding
Fenomena jamu modern—mulai dari party jamu, jamu bar, hingga jamu botolan premium—menunjukkan bagaimana tradisi bisa beradaptasi dengan selera pasar. Inovasi terletak pada:
rasa yang lebih ringan,
kemasan estetik,
storytelling budaya,
serta pendekatan lifestyle.
Kenapa Minuman Herbal Kekinian Diminati?
Kesadaran Kesehatan
Banyak konsumen mencari minuman dengan bahan alami dan rendah bahan sintetis.
Alternatif Minuman Manis & Berkafein
Minuman herbal dianggap lebih “netral” bagi tubuh dibandingkan minuman energi atau kopi manis.
Visual & Media Sosial
Warna alami dari rosella dan bunga telang sangat mendukung konten visual di Instagram dan TikTok.
Nilai Tradisi & Keberlanjutan
Produk herbal sering dikaitkan dengan kearifan lokal, petani lokal, dan keberlanjutan lingkungan.
Catatan Kesehatan yang Sangat Penting ??
Minuman herbal memang sangat bermanfaat dan berpotensi untuk menjaga juga mendukung kesehatan, tapi kita harus tetap memperhatikan cara mengkonsumsi nya dan menyesuaikan dengan kondisi tertentu. Beberapa hal yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu :
? Herbal bukan pengganti obat medis
Minuman herbal berfungsi sebagai pendukung kesehatan, bukan terapi utama.
? Interaksi obat
Beberapa herbal dapat berinteraksi dengan obat tertentu (misalnya pengencer darah).
? Ibu hamil & menyusui
Tidak semua herbal aman dikonsumsi tanpa konsultasi tenaga kesehatan.
? Penyakit kronis
Penderita penyakit hati, ginjal, atau autoimun sebaiknya lebih berhati-hati.
Regulasi Herbal di Indonesia
Di Indonesia, produk herbal diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Berdasarkan regulasi, herbal dibagi menjadi:
Jamu
Obat Herbal Terstandar
Fitofarmaka
Setiap kategori memiliki tingkat pembuktian ilmiah dan klaim yang berbeda. Untuk produk komersial, kepatuhan terhadap regulasi BPOM adalah keharusan.
Minuman herbal kekinian adalah bukti bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menjadi modern. Dengan pendekatan yang tepat—baik dari sisi rasa, visual, maupun edukasi—herbal bisa menjadi jembatan antara warisan budaya dan gaya hidup sehat masa kini. Namun, popularitas ini harus selalu diimbangi dengan informasi yang akurat, etis, dan bertanggung jawab.
Referensi
World Health Organization (WHO). WHO Monographs on Selected Medicinal Plants.
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. PerBPOM No.10 Tahun 2024 tentang Obat Bahan Alam.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Health Effects of Ginger.
NCBI. Curcumin: Biological Activities and Bioavailability.
NCBI. Health Benefits of Hibiscus sabdariffa.
NCBI. Clitoria ternatea: Phytochemistry and Pharmacology.
Grand View Research. Indonesia Herbal Beverage Market Report 2024–2033.