Dalam beberapa tahun terakhir, skincare berbasis bahan natural
atau herbal semakin populer, terutama di kalangan anak muda dan pencinta
clean beauty. Banyak yang mengira bahwa label “natural” otomatis berarti
aman dan bebas risiko.
Tapi benarkah semua produk herbal itu aman untuk semua orang?
Masalahnya, istilah natural atau herbal tidak
punya definisi tunggal yang jelas secara hukum di banyak negara — sehingga
sering kali membuat konsumen salah kaprah tentang keamanan suatu produk.
Artikel ini membongkar apa saja risiko yang sebenarnya
ada di balik skincare herbal, berdasarkan referensi ilmiah dan sumber
kesehatan tepercaya.
1. “Natural” Tidak Selalu Sama dengan “Aman”
Banyak konsumen menganggap produk herbal aman karena berasal
dari alam. Padahal, sejumlah senyawa alami bisa bersifat aktif secara
biokimia dan memiliki efek berbeda pada tiap individu.
Menurut University of California Davis Health,
istilah natural dalam kosmetik bukan jaminan keamanan — karena bahan
tersebut tetap memiliki komponen bioaktif yang bisa menyebabkan iritasi,
alergi, atau sensitivitas pada beberapa orang.
Contohnya:
- Essential
oils dalam konsentrasi tinggi bisa menjadi irritants
- Tanaman
tertentu memiliki allergenic proteins
- Ekstrak
herbal bisa bereaksi dengan produk lain di rutinitas skincare
2. Risiko Alergi dan Iritasi Kulit
Salah satu risiko paling umum dari skincare herbal adalah reaksi
kulit. Bahkan senyawa alami pun bisa memicu reaksi pada kulit sensitif.
Menurut American Academy of Dermatology (AAD), bahan
alami seperti:
- tea
tree oil
- cinnamon
bark
- citrus
extracts
…telah dikaitkan dengan iritasi kontak dan dermatitis alergi pada sejumlah kasus.
Bahan-bahan aromatik alami — meskipun sering dianggap “soft”
— bisa menjadi penyebab:
·
kemerahan
·
gatal
·
rasa panas
·
perjalanan dermatitis
Terutama jika dipakai terlalu sering atau dalam konsentrasi
tinggi.
3. Sensitivitas Terhadap Essential Oils
Essential oils (EO) sering dipakai dalam skincare herbal
untuk aroma dan efek menenangkan. Contoh EO yang umum dipakai:
- lavender
oil
- peppermint
oil
- rosemary
oil
Meskipun populer, Essential Oil Safety oleh Tisserand
& Young (editor pakar aromaterapi) menyebutkan bahwa EO bisa bersifat
iritan kuat dan foto-sensitizer bila:
- digunakan
tanpa pengenceran yang tepat
- terkena
paparan sinar matahari setelah aplikasi
- dipakai
di area kulit tipis seperti wajah
Artinya, skincare herbal dengan EO tanpa panduan yang tepat
bisa berpotensi meningkatkan risiko sensitivitas kulit atau sunburn yang
lebih parah.
4. Interaksi dengan Obat atau Produk Lain
Bahan herbal tertentu dapat berinteraksi dengan obat
resep atau kosmetik lain yang sedang kamu pakai. Misalnya:
Citrus extracts (citral, limonene)
? Bisa meningkatkan sensitivitas UV jika dipakai bersama retinoid atau AHA/BHA.
Tea tree oil
? Meski digunakan untuk jerawat, dapat memicu dermatitis kontak jika dipakai
bersamaan dengan acne medication yang kuat.
Menurut Cleveland Clinic, interaksi seperti ini
sering diabaikan karena konsumen fokus pada label “natural”.
5. Tidak Ada Standar Regulasi “Natural” yang Seragam
Berbeda dengan obat atau bahan farmasi, istilah natural
di kosmetik tidak diatur secara ketat di banyak negara.
Menurut FDA (Food and Drug Administration) AS, tidak
ada definisi tunggal tentang apa yang membuat suatu produk “natural”. Label
seperti itu bisa dipakai tanpa bukti ilmiah yang kuat — hanya berdasarkan klaim
pemasaran.
Hal ini membuka peluang:
- penggunaan
bahan yang disebut “herbal” namun diproses secara kimia
- formulasi
dengan konsentrasi bahan aktif tinggi tanpa peringatan jelas
- penggunaan
campuran sintetik + herbal tanpa label yang transparan
6. Risiko Kontaminasi & Impuritas
Produk herbal yang tidak diproduksi dengan standar quality
control tinggi rentan terhadap kontaminasi seperti:
- mikroba
- logam
berat
- residu
pestisida
Menurut European Commission Scientific Committee on
Consumer Safety (SCCS), beberapa produk herbal yang dipasarkan tanpa
kontrol kualitas yang ketat bisa mengandung impuritas berbahaya.
Ini menunjukkan bahwa:
·
Sekalipun berbasis herbal
·
Tidak otomatis “lebih
aman” tanpa kontrol mutu yang jelas
7. Kesalahan Formula & Konsentrasi Herbal
Walaupun bahan herbal punya potensi manfaat, konsentrasi
dan formulasi itu penting.
Bahan herbal aktif harus:
·
diteliti secara kosmeceutical
·
distandarisasi
·
diuji stabilitasnya dalam formulasi
Menurut Journal of Cosmetic Science, banyak brand
indie menggunakan bahan herbal tanpa standarisasi konsentrasi yang jelas —
sehingga efeknya tidak konsisten, bahkan berisiko iritasi.
8. Respons Kulit Itu Individual
Kulit setiap orang berbeda — apa yang aman untuk satu
orang belum tentu aman untuk orang lain.
American Academy of Dermatology menegaskan bahwa reaksi terhadap
bahan herbal tidak bisa diprediksi sempurna dan perlu diuji terlebih
dahulu.
Tips Aman Pakai Skincare Herbal
Berikut cara supaya kamu tetap bisa memakai produk herbal dengan
risiko minimal:
Patch Test
Coba di area kecil kulit 24–48 jam sebelum memakai rutin.
Cek Daftar Bahan
Utamakan yang punya:
- nama
ilmiah bahan lengkap
- petunjuk
konsentrasi jelas
Hindari Essential Oils Konsentrasi Tinggi
Terutama untuk area muka atau mata.
Hindari Produk Tanpa Standar Sertifikasi
Carilah:
- sertifikat
dermatologis
- uji
bebas bakteri
- standar
kualitas GMP
Kombinasi dengan Produk Lain Harus Dipertimbangkan
Jika kamu memakai retinoid/peel/exfoliant, berhati-hati
dengan herbal aromatik.
Kesimpulan
Label “natural” atau “herbal” tidak otomatis
menjamin bahwa suatu produk aman untuk semua orang atau lebih baik daripada
bahan sintetis.
Kunci yang paling penting adalah:
·
Memahami komponen bahan aktif dan risiko
potensialnya
·
Mengerti bahwa semua bahan, natural atau
sintetis, dapat menimbulkan reaksi kulit
·
Mengetahui bahwa regulasi natural berbeda
antar negara
·
Memilih produk dengan standar kualitas tinggi
Singkatnya, herbal itu potensial, tetapi harus
dipakai dengan pemahaman, bukan mitos label.
Disclaimer Kesehatan
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan dan
kecantikan. Informasi ini tidak menggantikan nasihat medis atau konsultasi
dermatologist. Jika kamu memiliki kondisi kulit sensitif atau sedang menjalani
terapi kulit khusus, konsultasikan dengan profesional medis sebelum
mencoba produk herbal baru.
Referensi Tepercaya
- American
Academy of Dermatology (AAD) – reaksi kulit terhadap essential oils
dan bahan herbal secara topikal.
- UCDavis
Health – penjelasan tentang kecantikan natural vs risiko
iritasi.
- FDA
(US Food and Drug Administration) – batasan istilah natural
dalam kosmetik.
- European
Commission Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS) – risiko
kontaminasi dan impuritas bahan herbal.
- Essential
Oil Safety oleh Tisserand & Young – risiko EO dan penggunaan yang
aman.
- Journal
of Cosmetic Science – pentingnya standarisasi ekstrak herbal dalam
skincare.